Tahun Baru Masehi

Setiap tanggal 31 Desember, banyak orang disibukkan dengan persiapan perayaan pergantian Tahun Baru Masehi yang dilakukan dengan berbagai cara. Namun, mengapa Tahun Baru harus selalu dirayakan setiap tanggal 1 Januari? Dan, bagaimana sejarah dibalik proses penetapan Tahun Baru itu? Untuk lebih jelasnya, simak saja ulasan singkat berikut ini.

Kapan Tahun Baru Masehi Ditetapkan?

Pada tahun 45 SM, Kaisar Roma Julius Caesar melakukan revisi sistem kalender Romawi Kuno, karena belum selaras dengan matahari. Itulah yang menyebabkan Julius Caesar bekerja sama dengan para ahli ternama di bidang astronomi dan matematika guna memperbaiki sistem kalender yang kacau tersebut. Sejak saat itu terciptalah sistem kalender Julian yang sekaligus menetapkan 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Sebelum Tahun Baru Masehi yang kita kenal dirayakan setiap tanggal 1 Januari, manusia merayakan tahun baru bukan didasarkan pada sistem kalender melainkan berdasar pada pergantian musim. Contohnya seperti yang dilakukan oleh bangsa Mesopotamia sekitar tahun 2000 SM yang diyakini selalu merayakan Tahun Baru setiap pertengahan Maret saat terjadinya pergantian musim.

Namun, sejak manusia mengenal ilmu astronomi, terciptalah sistem perhitungan waktu yang kemudian dikenal dengan kalender. Sistem kalender juga bermacam-macam, tetapi cikal bakal Tahun Baru Masehi yang digunakan oleh banyak negara hingga saat ini berasal dari sistem kalender yang dibuat oleh bangsa Romawi.

1. Perubahan Dari Kalender Romawi Kuno Ke Kalender Julian

Sistem kalender Romawi Kuno diawali pada bulan Maret sehingga secara otomatis, Tahun Baru menurut kalender Romawi Kuno dirayakan setiap tanggal 1 Maret. Setelah terjadi beberapa kali revisi oleh Kaisar Roma sesudah kepemimpinan Kaisar Romulus, hingga pada akhirnya Julius Caesar memperkenalkan sistem kalender baru yang diberi nama Kalender Julian.

Julius Caesar menciptakan kalender Julian dibantu Sosigenes, seorang astronom asal Iskandariyah yang memberikan ide bahwa sistem kalender yang selaras dengan matahari itu harus dibuat berdasarkan perputaran revolusi matahari. Kalender Julian terdiri dari 12 bulan yang masing-masing diberi nama Januarius, Februarius, Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis,  Sextilis, September, October, November dan December.

Seiiring dengan berjalannya waktu dan bergantinya Kaisar Roma, nama-nama bulan yang terdapat pada kalender Julian itu juga mengalami perubahan nama, misal seperti Quintilis yang berganti nama jadi Julius (Juli) atau Sextilis yang menjadi Agustus sesuai dengan nama Kaisar Roma pengganti Julius, yaitu Kaisar Augustus.

Kembali berbicara mengenai Tahun Baru Masehi, berdasarkan sistem kalender Julian, Januari ditetapkan sebagai awal tahun, disebabkan karena dua alasan, yaitu nama Januari sendiri diambil dari salah satu dewa Romawi, penjaga gerbang Olympus bernama Janus. Tugas dewa Janus sebagai penjaga gerbang itulah yang melandasi pemilihan namanya yang diibaratkan sebagai bulan yang menjadi gerbang tahun baru.

Selain itu, alasan yang kedua adalah tepat pada tanggal 1 Januari merupakan waktu puncak musim dingin yang juga dijadikan sebagai waktu pemilihan Konsul oleh pemerintahan Romawi. Kemudian, pada bulan berikutnya, Konsul yang terpilih itu akan diberkati dalam sebuah upacara yang sekaligus merayakan penyambutan musim semi dan dapat diartikan pula sebagai penyambutan hal-hal baru.

2. Abad Pertengahan (Runtuhnya Kekaisaran Romawi)

Pada abad pertengahan (abad ke-5 hingga ke-15 Masehi), Kekaisaran Romawi mulai mengalami keruntuhan hingga pada tahun 567 Masehi, Konsili Tours melarang perayaan Tahun Baru karena dianggap budaya Pagan dan tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Saat itu, Kristen memang cukup dominan peranannya, bukan hanya di Kekaisaran Romawi, bahkan menyebar sampai ke hampir seluruh wilayah Eropa.

Oleh sebab itu, pada abad pertengahan, kebanyakan negara yang ada di benua Eropa kembali menggunakan bulan Maret sebagai penanda awal Tahun baru. Kebanyakan dari mereka memilih tanggal 25 Maret sebagai awal tahun yang juga dikenal sebagai hari Kenaikan Tuhan dan dirayakan dengan cara melakukan puasa khusus serta ekaristi.

3. Pergantian Kalender Julian Menjadi Kalender Gregorian

Meskipun telah digunakan selama berabad-abad lamanya, namun masih ada sejumlah pihak yang menilai bahwa kalender Julian kurang akurat, khususnya yang berkaitan dengan daur tahun kabisat. Oleh sebab itu, seorang astronom asal Napoli, Dr Aloysius Lillius mengusulkan untuk memodifikasi kalender Julian. Usulan tersebut kemudian dikerjakan dan disempurnakan oleh Christopher Clavius, astronom asal Jerman.

Pada dasarnya, sistem perhitungan yang digunakan untuk merancang kalender Julian dan kalender Gregorian itu sama karena perhitungan yang digunakan adalah perhitungan pergerakan matahari. Namun selama ini kalender Julian dianggap kurang tepat dalam menghitung perputaran bumi terhadap matahari. Terbukti dari musim semi yang lama kelamaan tidak bersamaan lagi dengan Hari Paskah.

Oleh sebab itu, pada tahun 1582, sistem kalender baru hasil modifikasi kalender Julian yang diberi nama kalender Gregorian itu disetujui dan langsung diperkenalkan oleh Paus Gregorius XVIII. Sejak saat itu pula hingga saat ini 1 Januari kembali dijadikan sebagai awal Tahun Baru Masehi.

Tradisi Unik Perayaan Tahun Baru Masehi Di Berbagai Negara

Selain dirayakan dengan pesta besar-besaran, di beberapa negara juga memiliki tradisi-tradisi unik untuk merayakan Tahun Baru Masehi, contohnya seperti negara-negara di bawah ini:

1. Denmark

Tradisi unik khas Tahun Baru masyarakat Denmark yang masih dilakukan hingga saat ini adalah memecahkan porselen yang sudah tidak dipakai di depan pintu rumah. Hal seperti itu dilakukan karena bagi masyarakat Denmark, kaca pecah dianggap dapat membawa keberuntungan.

2. Spanyol

Ada mitos terkenal di Spanyol yang mengatakan bahwa menghabiskan 12 buah anggur sekaligus di detik-detik jelang pergantian tahun akan bisa membawa keberuntungan, namun jika Anda gagal menghabiskan 12 buah anggur tersebut, maka siap-siap menghadapi kesialan di tahun yang baru.

3. Finlandia

Tradisi unik Tahun Baru Masehi khas Finlandia adalah ramalan kehidupan di tahun yang baru melalui media lelehan lempengan timah. Contohnya, jika saat timah dilelehkan kemudian membentuk cincin, maka diartikan bahwa di tahun yang baru akan terjadi suatu hal yang terkait dengan pernikahan.

4. Filipina

Tahun Baru di Filipina diidentikkan dengan berbagai macam hal dalam bentuk bulat. Masyarakat Filipina percaya bahwa segala hal yang berbentuk bulat dapat membawa keberuntungan di tahun yang baru.

5. Italia

Tahun Baru di Italia dirayakan dengan tradisi yang tidak kalah uniknya, yaitu dengan membuang perabot lama yang ada di rumah mereka melalui jendela. Tradisi unik tersebut melambangkan bahwa mereka telah mengikhlaskan segala hal yang terjadi di tahun sebelumnya dan siap menyambut Tahun Baru dengan menyediakan tempat yang lebih baik.

Bukan hanya tradisi-tradisi unik saja, Tahun Baru Masehi juga seringkali dijadikan sebagai waktu untuk membuat resolusi yang diharapkan bisa dicapai di sepanjang tahun yang baru. Hari pertama di tahun yang baru sebaiknya diisi dengan mengenang berbagai kesalahan di masa lalu dan kemudian memikirkan cara terbaik agar tidak mengulangi kesalahan dan bisa lebih baik di masa yang akan datang. Selamat menikmati hari libur nasional kali ini, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *